Story

Seleksi OSIS

Saya berjalan melewati perpustakaan, ruang kepsek (kepala sekolah), ruang UKS, dan akhirnya saya sampai di ruang OSIS. Saya datang untuk mengambil formulir pendaftaran anggota OSIS baru. Ini pertama kalinya saya mendaftar OSIS selama masa sekolah.
Sebenarnya niat awal saya hanya ingin mengikuti Latihan Kepemimpinan Siswa dan mendapatkan sertifikat. Namun, siapa sangka cerita ini akan menjadi panjang karena akhirnya saya menjadi sekretaris OSIS. Yah, walaupun sempat terlintas ingin jadi sekretaris OSIS, tapi saya kira itu gak akan kejadian, karena saya sadar diri, bahwa saya hanya remahan roti dibanding para pengurus organisasi yang populer itu hihi.

Hari pertama Leadership Training saya merasakan suasana baru. Saya melakukan hal-hal yang wajar, sesuai jadwal dan instruksi, jadi saya tidak kena tegur kakak panitia. Malam pertama kita menampilkan pentas seni dari masing-masing kelompok, semuanya terlihat senang dan terhibur, bahkan kakak panitia banyak yang memberi semangat dan tersenyum ramah ke peserta training.
Hari kedua berjalan lancar seperti hari pertama, namun malamnya kita diolah mental dan dirombak abis-abisan sama kakak panitia, semua kesalahan kita dari hari pertama hingga malam ini di ungkit-ungkit dan kita menerima banyak hukuman. Masing-masing perwakilan organisasi dikumpulkan di satu tempat, kemudian mereka dibentak dan dikritik oleh panitia dan banyak yang disuruh push-up setengah dan bending setengah selama lebih dari 10 menit, hingga banyak yang menangis juga ada yang sakit saat itu pula. Intinya saat itu banyak drama yang terjadi dalam satu malam saja. Namun saya tidak kena bentak dan tidak di suruh push-up atau bending, saya pun bingung kenapa saya tidak dipanggil saat itu, mungkin tidak ada kesalahan saya yang bisa dijadikan bahan olah mental haha. tapi pada malam itu saya sangat bersyukur karena saya baik-baik saja. Oiya, sebelumnya saya adalah anggota ambalan, tapi saya hanya anak bawang di ambalan, jadi mungkin itu alasan saya tidak dipanggil pada malam itu, atau alasan lainnya, i dunno.

Setelah sesi olah mental dan fisik selesai, kita disuruh panitia mencari pin yang bertuliskan nama kita masing-masing. Teman-teman saya sudah dapat menemukan pin nya, tapi saya tidak dapat menemukannya juga, hingga besok pagi kita yang belum menemukan pin diberi kesempatan oleh panitia untuk mencarinya lagi. Waktu untuk mencari pin sudah habis. Tapi pin saya belum ketemu juga, saya sangat khawatir tidak bisa menemukannya karena saya bisa saja dihukum oleh panitia. Kemudian kita diberi waktu untuk istirahat dan mandi selama beberapa menit. Inilah hari terakhir training, kita dikumpulkan di satu tempat dan ternyata masih ada training lainnya, ini seperti melatih jiwa kekeluargaan dan kepedulian kita. Pada akhirnya kita semua menangis karena ketua MPK yang ‘dianiaya’ oleh panitia, latihan itu benar-benar menggerakkan hati kita semua. Bahkan saya dan calon kandidat ketos dan waketos kena sebor air begitu banyak dan di bentak-bentak/dimarahi oleh kakak panitia. 

Oiya, saat malam sebelum olah mental dan fisik, ada pengumuman calon ketua MPK dan kandidat Calon Ketua OSIS dan Calon Wakil Ketua OSIS. Terpilihlah ketua MPK pada malam itu dan saya tidak menyangka bahwa saya menjadi kandidat Calon Ketua OSIS. Padahal saya hanya anak bawang. Hal ini benar-benar membuat saya terkejut, saya belum siap, saya ingin mengundurkan diri tapi teman-teman dan kakak panitia memberi semangat kepada saya. Akhirnya saya pun mengurungkan niat untuk mengundurkan diri.
Upacara Penutupan Leadership Training pun dilaksanakan. Saya belum juga menemukan pin milik saya, dan saya bertanya dengan kandidat caketos lainnya, ternyata meraka juga belum mendapatkan pin nya. Dari situ saya tahu bahwa ini sudah direncanakan oleh panitia. Pada saat saya berfikir seperti itu, panitia memanggil kami para kandidat caketos dan cawaketos untuk naik ke atas mimbar, kami pun naik ke atas mimbar. Saya melihat salah satu kakak panitia memegang pin milik saya dan ia naik ke atas mimbar. Ternyata kami disuruh mengambil pin yang dipegang panitia dengan mulut kami. Sebenarnya saya merasa sangat kesal tapi juga sedikit terkesan dengan konsep latihan kepemimpinan ini. 

Beberapa hari setelah Leadership Training selesai, tiba saatnya pemilihan ketua OSIS oleh seluruh warga sekolah. Alhamdulillah saya kalah, jadi saya bukanlah ketua OSIS-nya. Keesokan harinya, Upacara Pelantikan pun dilaksanakan, setelah itu kami resmi jadi pengurus OSIS dan pengurus Organisasi lainnya. Kemudian ketua OSIS menunjuk saya menjadi Sekretaris OSIS, saya pun menerima jabatan tersebut. 

Kalau mau baca lanjutan cerita nya, klik disini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *