Story

Sekretaris OSIS

Saya pernah sekilas (cuma sekilas lewat) berpikir ingin menjadi sekretaris OSIS ataupun sekretaris organisasi lainnya, tapi saya sangat tidak ingin menjadi ketua organisasi. Mengapa saya pernah sekilas berpikir seperti itu? Alasannya karena saya melihat kaka kelas saya yang menjadi sekretaris di perusahaan hehe. Jadi, pengan tahu gimana rasanya jadi sekretaris. Karena saya masih sekolah, sepertinya sekretaris OSIS adalah pilihan tepat hehe. Tapi, saya tidak menduga ternyata sekilas pikiran saya itu jadi kenyataan dan saya akhirnya benar-benar jadi sekretaris OSIS. Jadi, ini adalah cerita ketika saya menjadi Sekretaris OSIS (sesuai judul kan).

Awal saya menjadi sekretaris memang belum banyak tugas, dan saya juga sambil belajar dari sekretris OSIS tahun sebelumnya. Saya benar-benar bingung ketika awal menjabat, karena itu pengalaman pertama saya menjadi pengurus OSIS. Sehingga saya sering sekali ngobrol dan diskusi bareng kakak kelas saya yang aktif di organisasi, dan hampir semua yang saya ajak diskusi itu ketua organisasi ataupun Badan Pengurus Harian (BPH) yang bisa memberi saran dan motivasi untuk kemajuan saya dan organisasi. Saya senang sekali bisa berdiskusi bareng kakak kelas, karena saya bisa belajar dari pengalaman mereka.

Bulan Februari 2018 saya dan teman-teman mulai masuk ke tahap masa sulit organisasi, ketua OSIS merasa bahwa pengurus OSIS mulai saling tidak peduli dan mulai malas ikut rapat. Entah apa yang ketua OSIS pikirkan tapi kita semua sebagai pengurus tahu bahwa itu bukan hal yang mudah untuk ketua OSIS hadapi. Mungkin ada banyak masalah pribadi dan masalah organisasi yang sedang dia hadapi. Tapi saya dan ketua OSIS tidak terlalu akrab, sehingga saya kurang tahu persis permasalahan nya. Yang saya tahu, masalah tentang banyaknya program kerja OSIS yang belum terlaksana, tapi saya yakin permasalahannya bukan hanya itu. Pada saat itu, ada beberapa kegiatan yang harus saya lakukan seperti mengajar pramuka di SD, kemudian saya harus les dan pematangan untuk lomba olimpiade kimia. Jadi saya kurang memerhatikan organisasi, namun setelah kejadian itu, saya sedikit lebih intens memerhatikan organisasi juga. 

Sebelum saya masuk OSIS, saya dan ketua OSIS pernah satu organisasi di Ambalan, tapi kita tidak akrab dan saya juga tidak mau terlalu akrab dengan laki-laki (jaga batasan), dan sekarang saya satu organisasi lagi dengan nya. Ada beberapa hal lain yang membuat saya dan ketua OSIS tidak akrab yaitu beda kelas, saya IPA dia IPS dan yang kedua, you know-lah ketua osis itu famous baget dan banyak fans-nya dan sampai-sampai saya harus menghindar agar tidak dikira yang bukan-bukan oleh para fans-nya khususnya kakak kelas perempuan. Pada suatu waktu saya pernah ditanya oleh kakak kelas perempuan tentang hubungan saya dengan ketua OSIS, dan saya jawab dengan jelas bahwa kita rekan kerja di organisasi, saya hanya sekretaris OSIS dan dia ketua OSIS. Just it, no more

Setelah melalui berbagai macam masalah organisasi, akhirnya program kerja osis dari masing-masing seksi bidang mulai dilaksanakan dengan baik. Tugas saya sebagai sekretaris umum tidak terlalu ribet, karna saya hanya harus membantu ketua dalam menjalankan organisasi seperti membuat dan menyimpan arsip (surat, proposal, laporan, dll), mencatat semua hal sekecil apapun termasuk inventaris dan menerima laporan dari sekretaris acara dari setiap program kerja yang dilaksanakan. Tapi ketika akhir jabatan, justru sekretaris umum yang paling sibuk dan ribet. Karena harus menyusun Laporan Pertanggungjawaban selama satu tahun jabatan. 

Sebenarnya masih ada lanjutan ceritanya sampai peresmian pengurus baru (pengurus setelah saya). Tapi kalau saya lanjutkan jadi terlalu panjang. Jadi gak saya tulis di blog, tapi saya tulis di MS OneNote di laptop saya sebagai arsip. Terima kasih sudah membaca. 

Baca juga tentang Seleksi OSIS.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *