Review

Hidup Minimalis

Tulisan ini berisi review singkat tentang isi buku Goodbye, things. Hidup Minimalis ala Orang Jepang. Review ini berdasarkan pendapat saya pribadi setelah membaca bukunya secara langsung.

First impression ketika lihat cover nya, tampak minimalis dan membuat hati lebih tenang. Karena covernya berisi foto ruangan apartemen penulis yang terlihat rapih, lega (karena sedikit barang) dan dipadu dengan suasana warna cat serta lantai yang terlihat warm. Kesederhanaan serta ketenangan.

Pada halaman awal, kita akan disambut dengan foto-foto apartemen penulis sebelum dan sesudah menjadi seorang minimalis, ada juga foto-foto dari beberapa orang minimalis yang dapat menginsiprasi pembaca yang ingin menjadi seorang minimalis. Pada bab 1, kita akan disambut dengan subjudul “Semua orang mengawali hidup sebagai minimalis“. Maksudnya, kita semua terlahir ke dunia ini dengan tidak membawa suatu benda apapun, kecuali seperangkat tubuh manusia beserta jiwa dan ruh nya. Kita juga ketika meninggal tidak membawa benda apapun kecuali tubuh dan kain kafan atau pakaian mayat yang hendak dikubur, tapi bedanya ketika meninggal kita membawa amal dan pertanggungjawaban selama kita hidup di dunia.

Buku ini terdiri dari lima bab, di setiap bab, penulis menceritakan perjalanannya menuju minimalis dan di bab 3 berisi kiat-kiat menjadi minimalisme. Namun, hampir keselurahan isi buku ini adalah tentang membuang barang, iya sama seperti judulnya (Goodbye Things) dan tentang hal apa saja yang berubah setelah membuang barang, mulai dari barang yang tidak bermakna hingga barang yang sangat bermakna bagi seseorang. Banyak alasan kenapa kita harus menjadi seorang minimalisme, dan menurut saya pribadi, buku ini benar-benar mengingatkan kita akan kehidupan dunia yang fana dan sementara ini. Semakin banyak barang, semakin sedikit waktu luang yang kita miliki karna harus mengurus barang tersebut dan juga semakin sering kita membandingkan diri dengan orang lain yang memiliki barang lebih mewah dan lebih bagus dari yang kita punya. Semua hal yang mengganggu pikiran itu sudah cukup membuat waktu dan energi kita habis, sehingga seringkali merasa tidak bahagia. padahal kalau dipikir lagi, semua yang kita butuhkan sudah terpenuhi dan sudah ada. Belilah barang karna kebutuhan, jangan hanya karna keinginan, nafsu/ego, dan gengsi. Itulah salah satu pesan yang saya dapat dari membaca buku ini.

Setiap saya baca halaman demi halaman, saya selalu teringat dengan kehidupan minimalis yang diajarkan oleh islam, oleh Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wasallam. Sebagaimana yang diajarkan dan dicontohkan beliau, hiduplah dengan sederhana, tidak berlebih-lebihan, dalam hal apapun itu, berlebih-lebihan adalah tindakan yang tidak baik. Semua hal yang kita punya dan kita miliki semuanya ada hisabnya/perhitungannya dan akan dipertanggung jawabkan di akhirat kelak. Pada dasarnya, Islam sudah mengajarkan hidup minimalis dengan sangat detail berserta alasan dan kebaikan yang akan didapat. Tapi, kenapa harus diingatkan oleh buku ini untuk mengingat hidup minimalis yang diajarkan Islam(?). Membeli dan membaca buku ini adalah sebagai salah satu proses self development and improvement yang saya jalani.

One Comment

Leave a Reply to Runi febriarsi Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *